TUGAS SOFTSKIL BAHASA INDONESIA 2
NAMA
KELOMPOK :
·
Andhika
Yudistyra
·
Reyza
Rahadian
·
Zulyanto
Ariwibowo
Konvensi Naskah
A. Pengertian
Konvensi adalah suatu
(seperti amalan, tingkah laku, ciri-ciri) yang sudah disepakati dengan
meluasnya dan dipatuhi. Naskah adalah suatu teks yang berisi aturan, alur
cerita di dalam suatu dialog.
Maka yang dimaksud
dengan konvensi naskah adalah penulisan naskah karangan ilmiah yang berdasarkan
kebiasaan, aturan yang sudah lazim, dan sudah disepakati.
Konvensi penulisan
naskah yang sudah lazim mencangkup aturan pengetikan, pengorganisasian materi
utam, pengorganisasian materi pelengkap, bahasa, dan kelengkapan penulisan
lainnya.
B. Pendahuluan
Pengembangan tema
sebuah karangan tergantung dari kerangka karangan yang telah digarap
sebelumnya, beserta perincian-perinciannya yang dilakukan kemudian. Perincian
dalam kerangka karangan dapat diarahkan kepada pembentukan bab-bab dan
anak-anak bab, sedangkan perincian-perincian yang dilakukan kemudian diarahkan
kepada penetapan pokok-pokok utama dan pokok-pokok bawahan yang akan menjadi
inti atau gagasan utama alinea-alinea.
Persyaratan formal yang
harus dipenuhi sebuah karya menyangkut tiga bagian utama, yaitu : bagian
pelengkap pendahuluan, isi karangan, dan bagian pelengkap penutup.
1. Bagian Pelengkap
Pendahuluan
Bagian pelengkap
pendahuluan atau disebut juga halaman-halaman pendahuluan sama sekali tidak
menyangkut isi karangan. Tetapi bagian ini harus disiapkan sebagai bahan
informasi bagi para pembaca dan sekaligus berfungsi menampilkan karangan itu
dalam bentuk yang kelihatan lebih menarik. Bagian pelengkap pendahuluan terdiri
dari :
• Judul pendahuluan
• Halaman pengesahan
• Halaman judul
• Halaman persembahan
• Kata pengantar
• Daftar isi
• Gambar, tabel,
keterangan
2. Bagian Isi karangan
Bagian isi karangan
sebenarnya merupakan inti dari karangan atau buku; atau secara singkat dapat
dikatakan karangan atau buku itu sendiri. Bagian isi karangan biasanya terdiri
dari :
• Pendahuluan
• Tubuh karangan
• Kesimpulan
3. Bagian Pelengkap
Penutup
Bagian pelengkap
penutup juga merupakan syarat-syarat formal bagi suatu karangan ilmiah. Ada
bebarapa bagian yang biasanya dimasukkan dalam bagian pelengkap penutup
karangan yaitu : lampiran, bibliografi, dan daftar indeks.
Saya mempunyai contoh
pembuatan konvensi naskah,sebagai berikut :
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai seorang
mahasiswa tentu kemampuan untuk membuat naskah sanggat dibutuhkan,baik untuk
memenuhi kebutuhan tugas maupun untuk diikutsertakan dalam sebuah perlombaan
karya ilmiah,namun sayangnya masih banyak sekali mahasiswa yang belum begitu
mengerti bagaimana cara menulis naskah sesuai dengan syarat dan
ketentuan,semoga dengan makalah ini dapat membantu bagaimana cara pembuatan
naskah ilmiah yang baik dan benar.
B. Perumusan Masalah
Adapun perumusan
masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Penjelasan dari unsur-unsur dalam
penulisan sebuah karangan.
C. Tujuan
Pembuatan makalah ini
bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud konvensi naskah,dan bagaimana cara
pembuatan naskah yang baik dan benar sesuai dengan syarat dan ketentuan yang
ada
D. Manfaat
Manfaat dibuatnya
makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui apa yang
dimaksud dengan konvensi naskah.
2. Mahasiswa dapat membuat naskah dengan
baik dan benar sesuai dengan aturan yang berlaku
BAB 2
PEMBAHASAN
KONVENSI NASKAH
Dalam pembuatan naskah yang baik
tergantung dari kerangka karangan yang telah digarap sebelumnya, beserta
perincian-perinciannya yang telah dilakukan kemudian. Perincian dari kerangka
karangan akan menghasilkan suatu bab-bab dan sub-sub bab. Dari bab-bab dan
sub-sub bab ini akan menghasilkan pokok-pokok pikiran atau gagasan utama dalam
sebuah paragraf atau alinea.
Dalam pembuatan naskah yang baik
juga kita harus memperhatikan struktur kalimat dan pilihan kata (diksi) yang
dibuat sedemikian rupa, sehingga apa yang kita tulis itu jelas, teratur dan
menarik.
Namun, ada hal yang lebih penting
dari semua hal yang telah diuraikan di atas. Sebuah karangan juga menuntut
suatu persyaratan lain yaitu persyaratan formal; bagaimana supaya bentuk atau
wajah dari karangan itu, sehingga kelihatan tampak lebih indah dan menarik.
Persyaratan formal ini meliputi bagian-bagian pelengkap dan kebiasaan-kebiasaan
yang harus diikuti dalam dunia kepenulisan. Semua persyaratan ini secara umum
disebut dengan konvensi naskah. Konvensi naskah adalah penulisan sebuah naskah
berdasarkan ketentuan, aturan yang sudah lazim, dan sudah disepakati.
Dari segi persyaratan formal ini,
dapat dibedakan lagi karya yang dilakukan secara formal, semi-formal, dan
non-formal.Yang dimaksud dengan formal adalah bahwa suatu karya memenuhi semua
persyaratan lahiriah yang dituntut oleh konvensi. Sebaliknya, semi-formal yaitu
bila sebuah karangan tidak memenuhi semua persyaratan lahiriah yang dituntut
konvensi. Sedangkan non-formal yaitu bila bentuk sebuah karangan tidak memenuhi
syarat-syarat formalnya.
SYARAT FORMAL PENULISAN
SEBUAH NASKAH
Dalam menyusun sebuah
karangan perlu adanya pengorganisasian karangan. Pengorganisasian karangan
adalah penyusunan seluruh unsur karangan menjadi satu kesatuan karangan dengan
berdasarkan persyaratan formal kebahasaan yang baik, benar, cermat, logis:
penguasaan, wawasan keilmuan bidang kajian yang ditulis secara memadai; dan
format pengetikan yang sistematis.
Persyaratan formal
(bentuk lahiriah) yang harus dipenuhi sebuah karya menyangkut tiga bagian
utama, yaitu: Bagian pelengkap pendahuluan, isi karangan, dan bagian pelengkap
penutup.
Unsur-unsur dalam
Penulisan Sebuah Karangan:
A.Bagian Pelengkap
Pendahuluan
a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul)
b. Halaman Judul
c. Halaman Persembahan (kalau ada)
d. Halaman Pengesahan (kalau ada)
e. Kata Pengantar
f. Daftar Isi
g. Daftar Gambar (kalau ada)
h. Daftar Tabel (kalau ada)
B.Bagian Isi Karangan
a. Pendahuluan
b. Tubuh Karangan
c. Kesimpulan
C.Bagian Pelengkap
Penutup
a. Daftar Pustaka (Bibliografi)
b. Lampiran (Apendix)
c. Indeks
d. Riwayat Hidup Penulis
A. Bagian Pelengkap
Pendahuluan
Bagian pelengkap
pendahuluan atau disebut juga halaman-halaman pendahuluan sama sekali tidak
menyangkut isi karangan. Tetapi bagian ini harus disiapkan sebagai bahan
informasi bagi para pembaca dan sekaligus berfungsi menampilkan karangan itu
dalam bentuk yang kelihatan lebih menarik.
a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul) dan Halaman
Judul
Judul pendahuluan
adalah nama karangan. Halaman judul pendahuluan tidak mengandung apa-apa
kecuali mencantumkan judul karangan atau judul buku. Judul karangan atau judul
buku ditulis dengan huruf kapital. Biasanya letaknya di tengah halaman agak ke
atas. Namun, variasi-variasi lain memang kerap sekali dijumpai.
Dalam pembuatan sebuah
makalah atau skripsi, halaman judul mencantumkan nama karangan, penjelasan
adanya tugas, nama pengarang (penyusun), kelengkapan identitas pengarang (nomor
induk/registrasi, kelas, nomor absen), nama unit studi (unit kerja), nama
lembaga (jurusan, fakultas, unversitas), nama kota, dan tahun penulisan.
Untuk memberikan daya
tarik pembaca, penyusunan judul perlu memperhatikan unsur-unsur sebagai
berikut:
-Judul menggambarkan
keseluruhan isi karangan.
-Judul harus menarik
pembaca baik makna maupun penulisannya.
-Sampul: nama karangan,
penulis, dan penerbit.
-Halaman judul: nama
karangan, penjelasan adanya tugas, penulis, kelengkapan identitas
pengarang, nama unit studi, nama
lembaga, nama kota, dan tahun penulisan (dalam pembuatan makalah atau skripsi).
-Seluruh frasa ditulis
pada posisi tengah secara simetri (untuk karangan formal), atau model lurus
pada margin kiri (untuk karangan yang tidak terlalu formal).
Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan makalah atau skripsi pada halaman judul:
B. Judul diketik dengan
huruf kapital, misalnya:
UPAYA MENGATASI
KEMISKINAN PADA
MASYARAKAT PEMUKIMAN
KUMUH
DI KELURAHAN JATINEGARA
JAKARTA TIMUR
A.Penjelasan tentang
tugas disusun dalam bentuk kalimat, misalnya:
Makalah ini Disusun
untuk Melengkapi Ujian Akhir
Mata Kuliah Bahasa
Indonesia Semester Ganjil 2009
Atau
Skripsi ini Diajukan
untuk Melengkapi Ujian Sarjana Ekonomi pada
Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
B.Nama penulis ditulis
dengan huruf kapital, di bawah nama dituliskan Nomor Induk Mahasiswa (NIM),
misalnya:
REYZA RAHADIAN
MAHARDIKA
14209349
-Logo universitas untuk
makalah, skripsi, tesis, dan disertasi; makalah ilmiah tidak diharuskan
menggunakan logo.
-Data institusi
mahasiswa mencantumkan program studi, jurusan, fakultas, unversitas, nama kota,
dan tahun ditulis dengan huruf kapital, misalnya:
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2009
Hal-hal yang harus
dihindarkan dalam halaman judul karangan formal:
ØKomposisi tidak
menarik.
ØTidak estetik.
ØHiasan gambar tidak
relevan.
ØVariasi huruf jenis
huruf.
ØKata “ditulis
(disusun) oleh.”
ØKata “NIM/NRP.”
ØHiasan, tanda-tanda,
atau garis yang tidak berfungsi.
ØKata-kata yang berisi
slogan.
ØUngkapan emosional.
ØMenuliskan kata-kata
atau kalimat yang tidak berfungsi.
b.Halaman Persembahan
Bagian ini tidak terlalu penting. Bila
penulis ingin memasukan bagian ini, maka hal itu semata-mata dibuat atas
pertimbangan penulis. Persembahan ini jarang melebihi satu halaman, dan
biasanya terdiri dari beberapa kata saja, misalnya:
Kutulis novel ini
dengan cahaya cinta
untuk mahar menyunting
belahan jiwa,
Muyasaratun Sa’idah
binti KH. Muslim Djawahir, alm.
Rabbana hab lanaa min
azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa
Qurrata a’yuni
waj’alnaa lil muttaqiina imaama. Amin.
Bila penulis menganggap perlu memasukkan
persembahan ini, maka persembahan ini ditempatkan berhadapan dengan halaman
belakang judul buku, atau berhadapan dengan halaman belakang cover buku, atau
juga menyatu dengan halaman judul buku.
c.Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan digunakan sebagai
pembuktian bahwa karya ilmiah yang telah ditanda-tangani oleh pembimbing,
pembaca/penguji, dan ketua jurusan telah memenuhi persyaratan administratif
sebagai karya ilmiah. Halaman pengesahan biasanya digunakan untuk penulisan
skripsi, tesis, dan disertasi, sedangkan makalah ilmiah, dan karangan lainnya
(baik non-fiksi maupun fiksi) tidak mengharuskan adanya halaman pengesahan.
Penyusunan pengesahan ditulis dengan memperhatikan persyaratan formal urutan
dan tata letak unsur-unsur yang harus tertulis di dalamnya.
Judul skripsi
seluruhnya ditulis dengan huruf kapital pada posisi tengah antara margin kiri
dan kanan. Nama lengkap termasuk gelar akademis pembimbing materi/teknis,
pembaca/penguji, dan ketua program jurusan ditulis secara benar dan disusun
secara simetri kiri-kanan dan atas-bawah. Skripsi diajukan kepada sidang
penguji akademis setelah disetujui oleh pembimbing dan pembaca/penguji. Penulis
skripsi dinyatakan lulus jika skripsinya telah diuji di hadapan sidang
terbuka/tertutup dan telah ditanda-tangani oleh semua nama yang tercantum dalam
halaman pengesahan. Nama kota dan tanggal pengesahan ditulis di atas kata ketua
jurusan.
Hal-hal yang harus
dihindarkan:
ØMenggaris-bawahi nama
dan kata-kata lainnya.
ØMenggunakan titik atau
koma pada akhir nama.
ØTulisan melampaui
garis tepi.
ØMenulis nama tidak
lengkap.
ØMenggunakan huruf yang
tidak standar.
ØTidak mencantumkan
gelar akademis.
d. Kata Pengantar
Kata pengantar
fungsinya sama dengan sebuah surat pengantar. Kata pengantar adalah bagian
karangan yang berisi penjelasan mengapa menulis sebuah karangan. Setiap
karangan ilmiah, seperti: buku, skripsi, tesis, disertasi, makalah, atau
laporan formal ilmiah harus menggunakan kata pengantar. Di dalamnya disajikan
informasi sebagai berikut:
-Ucapan syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
-Penjelasan adanya
tugas penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi, atau laporan
formal ilmiah).
-Penjelasan pelaksanaan
penulisan karya ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi, atau laporan formal ilmiah).
-Penjelasan adanya
bantuan, bimbingan, dan arahan dari seseorang, sekolompok orang, atau
organisasi/lembaga.
-Ucapan terima kasih
kepada seseorang, sekolompok orang, atau organisasi/lembaga yang membantu.
-Penyebutan nama kota,
tanggal, bulan, tahun, dan nama lengkap penulis, tanpa dibubuhi tanda-tangan.
-Harapan penulis atas
karangan tersebut.
-Manfaat bagi pembaca
serta kesediaan menerima kritik dan saran.
Kata pengantar merupakan bagian dari
keseluruhan karya ilmiah. Sifatnya formal dan ilmiah. Oleh karena itu, kata
pengantar harus ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Isi
kata pengantar tidak menyajikan isi karangan, atau hal-hal lain yang tertulis
dalam pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan. Sebaliknya, apa yang sudah
tertulis dalam kata pengantar tidak ditulis ulang dalam isi karangan.
Hal-hal yang harus
dihindarkan:
-Menguraikan isi
karangan.
-Mengungkapkan perasaan
berlebihan.
-Menyalahi kaidah
bahasa.
-Menunjukkan sikap
kurang percaya diri.
-Kurang meyakinkan.
-Kata pengantar terlalu
panjang.
-Menulis kata pengantar
semacam sambutan.
-Kesalahan bahasa:
ejaan, kalimat, paragraf, diksi, dan tanda baca tidak efektif.
e. Daftar Isi
Daftar isi adalah
bagian pelengkap pendahuluan yang memuat garis besar isi karangan ilmiah secara
lengkap dan menyeluruh, dari judul sampai dengan riwayat hidup penulis
sebagaimana lazimnya sebuah konvensi naskah karangan. Daftar isi berfungsi
untuk merujuk nomor halaman judul bab, sub-bab, dan unsur- unsur pelengkap dari
sebuah buku yang bersangkutan.
Daftar isi disusun
secara konsisten baik penomoran, penulisan, maupun tata letak judul bab dan
judul sub-sub bab. Konsistensi ini dipengaruhi oleh bentuk yang digunakan.
f. Daftar Gambar
Bila dalam buku itu
terdapat gambar-gambar, maka setiap gambar yang tercantum dalam karangan harus
tertulis didalam daftar gambar. Daftar gambar menginformasikan: judul gambar,
dan nomor halaman.
g. Daftar Tabel
Bila dalam buku itu
terdapat tabel-tabel, maka setiap tabel yang tertulis dalam karangan harus
tercantum dalam daftar tabel. Daftar tabel ini menginformasikan: nama tabel dan
nomor halaman.
B. Bagian Isi Karangan
Bagian isi karangan
sebenarnya merupakan inti dari karangan atau buku; atau secara singkat dapat
dikatakan karangan atau buku itu sendiri.
a. Pendahuluan
Pendahuluan adalah bab
I karangan. Tujuan utama pendahuluan adalah menarik perhatian pembaca,
memusatkan perhatian pembaca terhadap masalah yang dibicarakan, dan menunjukkan
dasar yang sebenarnya dari uraian itu. Pendahuluan terdiri dari latar belakang,
masalah, tujuan pembahasan, pembatasan masalah, landasan teori, dan metode
pembahasan. Kesuluruhan isi pendahuluan mengantarkan pembaca kepada materi yang
akan dibahas, dianalisis-sintesis, dideskripsi, atau diuraikan dalam bab kedua
sampai bab terakhir.
Untuk menulis
pendahuluan yang baik, penulis perlu memperhatikan pokok-pokok yang harus
tertuang dalam masing-masing unsur pendahuluan sebagai berikut:
1) Latar belakang
masalah, menyajikan:
Penalaran (alasan) yang menimbulkan masalah
atau pertanyaan yang akan diuraikan jawabannya dalam bab pertengahan antara
pendahuluan dan kesimpulan dan dijawab atau ditegaskan dalam kesimpulan. Untuk
itu, arah penalaran harus jelas, misalnya deduktif, sebab-akibat, atau
induktif.
Kegunaan praktis hasil analisis,
misalnya: memberikan masukan bagi kebijakan pimpinan dalam membuat keputusan,
memberikan acuan bagi pengembangan sistem kerja yang akan datang.
Pengetahuan tentang studi kepustakaan,
gunakan informasi mutakhir dari buku-buku ilmiah, jurnal, atau internet yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penulis hendaklah mengupayakan
penggunaan buku-buku terbaru.
Pengungkapan masalah utama secara jelas
dalam bentuk pertanyaan, gunakan kata tanya yang menuntut adanya analisis,
misalnya: bagaimana...., mengapa.....
Tidak menggunakan kata apa karena tidak
menuntut adanya analisis, cukup dijawab dengan ya atau tidak.
2) Tujuan penulisan berisi:
Target, sasaran, atau upaya yang hendak
dicapai, misalnya: mendeskripsikan hubungan X terhadap Y; membuktikan bahwa
budaya tradisi dapat dilestarikan dengan kreativitas baru; menguraikan pengaruh
X terhadap Y.
Upaya pokok yang harus dilakukan,
misalnya: mendeskripsikan data primer tentang kualitas budayatradisi penduduk
asli Jakarta; membuktikan bahwa pembangunan lingkungan pemukiman kumuh yang
tidak layak huni memerlukan bantuan pemerintah.
Tujuan utama dapat dirinci menjadi
beberapa tujuan sesuai dengan masalah yang akan dibahas. Jika masalah utama
dirinci menjadi dua, tujuan juga dirinci menjadi dua.
3) Ruang lingkup masalah berisi:
Pembatasan masalah yang akan dibahas.
Rumusan detail masalah yang akan
dibahas.
Definisi atau batasan pengertian istilah
yang tertuang dalam setiap variabel. Pendefinisian merupakan suatu usaha yang
sengaja dilakukan untuk mengungkapkan suatu benda, konsep, proses, aktivitas,
peristiwa, dan sebagainya dengan kata-kata.
4) Landasan teori menyajikan:
Deskripsi atau kajian teoritik variabel X
tentang prinsip-prinsip teori, pendapat ahli dan pendapat umum, hukum, dalil,
atau opini yang digunakan sebagai landasan pemikiran kerangka kerja penelitian
dan penulisan sampai dengan kesimpulan atau rekomendasi.
Penjelasan hubungan teori dengan
kerangka berpikir dalam mengembangkan konsep penulisan, penalaran, atau alasan
menggunakan teori tersebut.
5) Sumber data penulisan berisi:
Sumber data sekunder dan data primer.
Kriteria penentuan jumlah data.
Kriteria penentuan mutu data.
Kriteria penentuan sample.
Kesesuaian data dengan sifat dan tujuan
pembahasan.
6) Metode dan teknik penulisan berisi:
Penjelasan metode yang digunakan dalam
pembahasan, misalnya: metode kuantitatif, metode deskripsi, metode komparatif,
metode korelasi, metode eksploratif, atau metode eksperimental.
Teknik penulisan menyajikan cara
pengumpulan data seperti wawancara, observasi, dan kuisioner; analisis data,
hasil analisis data, dan kesimpulan.
7) Sistematika penulisan berisi:
Gambaran singkat penyajian isi
pendahuluan, pembahasan utama, dan kesimpulan.
Penjelasan lambang-lambang,
simbol-simbol, atau kode (kalau ada).
b. Tubuh Karangan
Tubuh karangan atau
bagian utama karangan merupakan inti karangan berisi sajian pembahasan masalah.
Bagian ini menguraikan seluruh masalah yang dirumuskan pada pendahuluan secara
tuntas (sempurna). Di sinilah terletak segala masalah yang akan dibahas secara sistematis.
Kesempurnaan pembahasan diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur berikut
ini:¬¬
1) Ketuntasan materi:
Materi yang dibahas mencakup
seluruh variabel yang tertulis pada kalimat tesis, baik pembahasan yang berupa
data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer. Pembahasan data primer
harus menyertakan pembuktian secara logika, fakta yang telah dianalisis atau
diuji kebenarannya, contoh-contoh, dan pembuktian lain yang dapat mendukung
ketuntasan pembenaran.
2) Kejelasan uraian/deskripsi:
Kejelasan konsep:
Konsep adalah
keseluruhan pikiran yang terorganisasi secara utuh, jelas, dan tuntas dalam
suatu kesatuan makna. Untuk itu, penguraian dari bab ke sub-bab, dari sub-bab
ke detail yang lebih rinci sampai dengan uraian perlu memperhatikan kepaduan
dan koherensial, terutama dalam menganalisis, menginterpretasikan (manafsirkan)
dan menyintesiskan dalam suatu penegasan atau kesimpulan. Selain itu, penulis
perlu memperhatikan konsistensi dalam penomoran, penggunaan huruf, jarak spasi,
teknik kutipan, catatan pustaka, dan catatan kaki.
Kejelasan bahasa:
Kejelasan dan ketetapan
pilihan kata yang dapat diukur kebenarannya. Untuk mewujudkan hal itu, kata
lugas atau kata denotatif lebih baik daripada kata konotatif atau kata kias
(terkecuali dalam pembuatan karangan fiksi, kata konotatif atau kata kias
sangat diperlukan)
Kejelasan makna kalimat
tidak bermakna ganda, menggunakan struktur kalimat yang betul, menggunakan
ejaan yang baku, menggunakan kalimat efektif, menggunakan koordinatif dan
subordinatif secara benar.
Kejelasan makna
paragraf dengan memperhatikan syarat-syarat paragraf: kesatuan pikiran,
kepaduan, koherensi (dengan repetisi, kata ganti, paralelisme, kata transisi),
dan menggunakan pikiran utama, serta menunjukkan adanya penalaran yang logis
(induktif, deduktif, kausal, kronologis, spasial).
Kejelasan penyajian dan fakta
kebenaran fakta:
Kejelasan penyajian
fakta dapat diupayakan dengan berbagai cara, antara lain: penyajian dari umum
ke khusus, dari yang terpenting ke kurang penting; kejelasan urutan proses.
Untuk menunjang kejelasan ini perlu didukung dengan gambar, grafik, bagan,
tabel, diagram, dan foto-foto. Namun, kebenaran fakta sendiri harus
diperhatikan kepastiannya.
Hal-hal lain yang harus
dihindarkan dalam penulisan karangan (ilmiah):
Subjektivitas dengan
menggunakan kata-kata: saya pikir, saya rasa, menurut pengalaman saya, dan
lain-lain. Atasi subjektivitas ini dengan menggunakan: penelitian membuktikan
bahwa…, uji laboratorium membuktikan bahwa…, survei membuktikan bahwa…,
Kesalahan: pembuktian
pendapat tidak mencukupi, penolakan konsep tanpa alasan yang cukup, salah
nalar, penjelasan tidak tuntas, alur pikir (dari topik sampai dengan simpulan)
tidak konsisten, pembuktian dengan prasangka atau berdasarkan kepentingan
pribadi, pengungkapan maksud yang tidak jelas arahnya, definisi variabel tidak
(kurang) operasional, proposisi yang dikembangkan tidak jelas, terlalu panjang,
atau bias, uraian tidak sesuai dengan judul.
c. Kesimpulan
Kesimpulan atau
simpulan merupakan bagian terakhir atau penutup dari isi karangan, dan juga
merupakan bagian terpenting sebuah karangan ilmiah. Pembaca yang tidak memiliki
cukup waktu untuk membaca naskah seutuhnya cenderung akan membaca bagian-bagian
penting saja, antara lain kesimpulan. Oleh karena itu, kesimpulan harus disusun
sebaik mungkin. Kesimpulan harus dirumuskan dengan tegas sebagai suatu pendapat
pengarang atau penulis terhadap masalah yang telah diuraikan.
Penulis dapat
merumuskan kesimpulannya dengan dua cara:
Dalam tulisan-tulisan
yang bersifat argumentatif, dapat dibuat ringkasan-ringkasan argumen yang
penting dalam bentuk dalil-dalil (atau tesis-tesis), sejalan dengan
perkembangan dalam tubuh karangan itu.
Untuk
kesimpulan-kesimpulan biasa, cukup disarikan tujuan atau isi yang umum dari
pokok-pokok yang telah diuraikan dalam tubuh karangan itu.
C. Bagian Pelengkap Penutup
Bagian pelengkap
penutup juga merupakan syarat-syarat formal bagi suatu karangan ilmiah.
a. Daftar pustaka
(Bibliografi)
Setiap karangan ilmiah
harus menggunakan data pustaka atau catatan kaki dan dilengkapi dengan daftar
bacaan. Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar yang berisi judul buku,
artikel, dan bahan penerbitan lainnya yang mempunyai pertalian dengan sebuah atau
sebagian karangan.
Unsur-unsur daftar
pustaka meliputi:
ö Nama pengarang: penulisannya dibalik dengan
menggunakan koma.
ö Tahun terbit.
ö Judul buku: penulisannya bercetak miring.
ö Data publikasi, meliputi tempat/kota terbit,
dan penerbit..
ö Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul
artikel, nama majalah, jilid, nomor, dan tahun terbit
Contoh: Tarigan, Henry. 1990. Membaca sebagai
Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. (Banyak versi lainnya, misal:
Sistem Harvard, Sistem Vancover, dan lain-lain)
Keterangan:
• Jika buku itu disusun oleh dua pengarang,
nama pengarang kedua tidak perlu dibalik.
• Jika buku itu disusun oleh lembaga, nama
lembaga itu yang dipakai untuk menggantikan nama pengarang.
• Jika buku itu merupakan editorial (bunga
rampai), nama editor yang dipakai dan di belakangnya diberi keterangan ed.
‘editor’
• Nama gelar pengarang lazimnya tidak
dituliskan.
• Daftar pustaka disusun secara alfabetis
berdasarkan urutan huruf awal nama belakang pengarang
b. Lampiran (Apendix)
Lampiran (apendix)
merupakan suatu bagian pelengkap yang fungsinya terkadang tumpang tindih dengan
catatan kaki. Bila penulis ingin memasukan suatu bahan informasi secara panjang
lebar, atau sesuatu informasi yang baru, maka dapat dimasukkan dalam lampiran
ini. Lampiran ini dapat berupa esai, cerita, daftar nama, model analisis, dan
lain-lain. Lampiran ini disertakan sebagai bagian dari pembuktian ilmiah.
Penyajian dalam bentuk lampiran agar tidak mengganggu pembahasan jika disertakan
dalam uraian.
c. Indeks
Indeks adalah daftar
kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan disusun secara alfabetis
(urut abjad). Penulisan indeks disertai nomor halaman yang mencantumkan
penggunaan istilah tersebut. Indeks berfungsi untuk memudahkan pencarian kata
dan penggunaannya dalam pembahasan.
d. Riwayat Hidup
Penulis
Buku, skripsi, tesis,
disertasi perlu disertai daftar riwayat hidup. Dalam skripsi menuntut daftar
RHP lebih lengkap. Daftar riwayat hidup merupakan gambaran kehidupan penulis
atau pengarang. Daftar riwayat hidup meliputi: nama penulis, tempat tanggal
lahir, pendidikan, pengalaman berorganisasi atau pekerjaan, dan karya-karya
yang telah dihasilkan oleh penulis.
DAFTAR PUSTAKA
§ Keraf, Gorys. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah,
1994.
§ HS, Widjono. BAHASA INDONESIA Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Grasindo, 2007.
§ Maryani, Yani, dkk. Intisari Bahasa dan
Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia, 2005
Daftar Pustaka
- Pengertian Konvensi
Naskah : http://ridwanal-bantani.blogspot.com/2009/10/konvensi-naskah.html
- Pendahuluan :
http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/27/konvensi-naskah/